Pentingnya Loan Agreement untuk UKM

21 Juli 2018, Dilihat 185 kali

Terdapat banyak faktor yang perlu ditingkatkan untuk memajukan usaha kecil dan menengah (UKM), salah satunya adalah pinjaman dengan bunga murah. Seperti yang disampaikan oleh Gubernur Jawa Timur Soekarwo bahwa segmen UKM menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Jatim, terutama saat didera krisis.  Soekarwo mengusulkan adanya Loan Agreement antara pemerintah dengan lembaga keuangan, khususnya perbankan. Dana-dana pemerintah, disimpan ke bank dan digunakan untuk menyalurkan kredit ke segmen UKM, namun pemerintah tidak meminta bunga simpanan. “Kalau subsidi KUR, uang pemerintah kan hilang. Tetapi, kalau pakai loan agreement, uang pemerintah Rp 120 triliun yang untuk subsidi bunga KUR, tetap ada,”ujar Soekarwo.

Dengan sumber dana yang murah, perbankan diharapkan dapat menyalurkan kredit murah kepada usaha kecil dan menengah karena bank tidak perlu mengeluarkan biaya dana atau cost of fund. Soekarwo pun membandingkan dengan negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara, di mana suku bunga kredit mereka berada di kisaran 6 persen hingga 8 persen.

“Kalau Indonesia bunga kreditnya masih 12 persen sampai 13 persen, ya produk kita kalah daya saingnya karena tidak efisien,” jelasnya.

Efisiensi menjadi satu faktor yang penting bagi UKM supaya produknya dapat bersaing dengan produk pasar. Soekarwo menyebutkan ada tiga hal yang harus dipenuhi oleh pengusaha supaya produknya dapat merajai pasar, yakni lebih berkualitas, lebih murah, dan lebih cepat pendistribusiannya.

Adapun, saat ini jumlah usaha mikro, kecil, dan menengah di Jatim tercatat sebanyak 6,8 juta unit usaha. Dari jumlah tersebut, sebagian besar tergolong sebagai usaha mikro, yakni 6.533.694 unit usaha atau 95,53 persen, disusul usaha kecil sebesar 3,85 persen atau sebanyak 261.827 unit usaha, dan usaha menengah sebesar 0,57 persen atau sebanyak 30.410 unit.

Sebelumnya, Pemerintah Kota Surabaya telah menyiapkan anggaran sekitar Rp 11 miliar pada tahun ini untuk mengembangkan potensi usaha mikro kecil yang setiap tahun mengalami pertumbuhan.

Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Surabaya Eko Haryanto mengatakan sebagian besar dari anggaran tersebut banyak digunakan untuk pengembangan usaha mikro, mulai dari pembinaan hingga membantu mengurus izin-izin usaha dan sertifikasi produk.

“Pembinaan terhadap usaha mikro ini termasuk yang ada di sentra-sentra pedagang kaki lima (PKL) dan beberapa pasar tradisional,” ujarnya.

Dia mengungkapkan jumlah UMKM yang ada di Surabaya dari tahun ke tahun mengalami pertumbuhan yang pesat. Berdasarkan data Dinkop dan Usaha Mikro Surabaya, jumlah UMKM di Surabaya kini sudah mencapai lebih dari 4.800 usaha.

Detail Publish

Tanggal Entry : 21 Juli 2018
Kategori : Berita Terkini

Berita Berita Terkini Lainnya